A popcorn head

Ask me anything   Submit   A free-spirited 23 yo Stevania Randalia with her own mind -- her own popcorn head.

Nahan.

Sesuatu yang ditahan-tahan itu emang gak baik.

Nahan pipis misalnya. Bisa bikin kencing batu kalo kata orang tua.

Nahan laper? Bisa berujung ke sakit maag, lalu tambah parah jadi asam lambung naik, lalu jadi radang tenggorokan kronis loh. *yang ini sih curhat sakit pribadi*


Gimana dengan nahan perasaan?
Kalo ini disebutin di tengah temen-temen pas lagi ngumpul, atau acara komedi saling sindir yang menjamur di tivi kita sekarang, balesannya pasti


“EEEAAAA”


Selain asam lambung parah tadi, nahan perasaan ini salah satu penyakit gue yang lain. Udah cukup lama tau, tapi selama ini, i feel like i’m fine with it, it’s okayy.

Tapi ini juga satu hal lain yang gue temukan seiring dengan bertambah dewasanya kita, bahwa nahan perasaan akan jadi lebih memberatkan diri dan become more unbearable dibandingkan masa kanak-kanak ataupun remaja.


Gue selalu susah marah. Dalam artian, mengungkapkan kekesalan/kemarahan dalam rupa ekspresi yang tepat. Mungkin merasakannya sih iya sebenernya, tapi cenderung ga dipupuk trus dikembangin apalagi dibuahin. Yang biasanya gue lakukan adalah coba cari angle lain buat ngeliat itu hal supaya ga terkesan se-ngeselin itu atau alihin aja fokusnya ke hal lain yang positif yang akhirnya ga self-destruct.


Kecuali satu hal atau orang udah ZUPER DUPER BIKIN KZL, most of the time, gue ga akan jadi orang yang gampang marah lantas ngelabrak orang.


Punya kecenderungan kaya gini, di satu sisi bikin kita jadi orang yang santai, tapi di sisi lain bisa bikin kita mengarah jadi orang yang emotion-less. Karena sama seperti koin punya 2 sisi mata uang, perilaku santai ini ga hanya dalam hal kemarahan, tapi juga kebahagiaan.


This is what I’ve been working on so far. I know I’ve had it in me due to my childhood experience, but I’m trying my best to navigate it along the way through adulthood.
To keep the anger remain calm but to embrace the happiness and keep the sparkle alive.
Termasuk untuk nahan suka, sayang, peduli, dan cinta.

*Terus muncul lagi sautan “EEEAAAAA”


Hopefully I will succeed in overcoming this & get better and better each day :’)

— 7 hours ago
#personal 
"When you meet someone who tries their hardest to stick by you regardless of how difficult you are, keep them. Keep them at all costs because finding someone who cares enough to look past your flaws isn’t something that happens every day."
Midnight Thoughts (I got lucky with you)

(Source: reality-escape-artist, via light-shot)

— 1 day ago with 68175 notes
Sebagian & Seutuhnya

Semalam saya bertemu teman-teman. Terakhir kali saya bertemu salah satunya sudah lebih dari setengah tahun yang lalu. Memang kami semua masih berteman di hampir semua account social media, jadi saling lihat postingan update masing-masing, tapi yaa beda “sense of intimacy”-nya dengan meet up & catch up.

Maka tentu pertanyaan “Jadi lagi deket ama sapa sekarang” muncul.
Dan saya menyadari, susah buat saya menceritakan overall cerita apalagi detail & progress per kala nya ke teman yang bertemu hanya sesekali dan dalam rentang waktu yang sangat jauh.

*the pain of being an introvert, i guess*

Pada akhirnya bisa diceritakan, tapi dengan terbata-bata dan dalam serial potongan yang acakadut dan tidak membentuk satu gambar utuh apalagi indah.


Lalu selalu, saya teringat TV series “How I Met Your Mother” dan keakraban Ted, Marshall, Robin, Lily, dan Barney yang EPIC & LEGENDARY.

I mean, the experience pushed me to reflect on how truly precious and important it is to have a person or a group that knows what’s going on with us REGULARLY, on a daily basis, or if not, i guess weekly basis won’t hurt.


As much as nice a rendezvous is, it is nicer to have someone who during the meeting we don’t have to CATCH UP that much cause she/he/they already know what has been going on in our lives at the moment.

What’s or who’s new, in, or out in our days.

Dengan mereka tau kejadian dan perkembangan kita lebih banyak, mereka tau kita lebih baik dari yang lain, dan (mudah-mudahan) mereka MENGERTI kita lebih baik dari yang lain.


Dan saya menemukan, semakin kita dewasa semakin kita memerlukan orang-orang ini. Yang mengerti/memahami kita tidak hanya dalam raga, tapi juga jiwa. Dan menerimanya apa adanya, bahkan memutuskan untuk tetap mencintainya.


Bisa ada seribu teman yang bertemu hanya 2 tahun sekali atau setengah tahun sekali yang memahami kita hanya seperempat bagian dari jiwa kita,

Akan jadi tak apa bila kita tahu, walau sedikit, tapi ada yang benar-benar memahami jiwa kita seutuhnya, bukan hanya sebagian.

Saya sayang dengan semua teman saya. Termasuk yang bertemu semalam. But I’m just helpessly romantic, so the persons who knows the whole me & my soul,

I love these persons the best & I’ll do anything to keep ‘em around in my life.

— 2 days ago
#personal